“kasih ibu kepada beta”, sebuah lagu yang sering kita nyanyikan semasa kecil bukan? Lagu yang dulu aku nyanyikan hanya sebagai hiburan dan tanpa tahu maksud lagu tersebut, ternyata lagu itu menggambarkan cerita singkat tentang sosok ibu di setiap pengorbanan dan perjalanannya. Lagunya singkat, bermakna, dan penuh arti. Ops…bukannya ingin mengulas tentang lagu, tapi di artikel ini aku ingin menulis sepucuk kalimat untuk ibu tentang bagaimana ia yang menjadi perempuan hebat dalam hidupku.

Photo by Daria Obymaha from Pexels

Berawal dari mana sehingga aku menyebutnya sebagai sosok ibu. Raga yang pertama kali aku tumpangi sebelum aku dilahirkan ke bumi. Perut yang menggendongku selama 9 bulan, ibu yang tidak pernah mengeluh bagaimana beratnya aku yang selalu ia bawa kemana-mana, bagaimana nakalnya kakiku mendorong perutnya yang tidak sabar untuk keluar, dan bagaimana ia mempertaruhkan nyawanya demi aku agar bisa melihat semesta. Ketika saat itu aku dilahirkan, disanalah orang-orang dan termasuk aku  mulai menyebutnya ia sebagai seorang ibu.

Ibu adalah sosok wanita yang aku kagumi. Caranya yang merawatku, mendidik dan membesarkanku hingga saat ini adalah bentuk kasih sayang yang selalu ia berikan. Ibu mungkin tidak pernah memarahiku, dan sekalipun aku melakukan kesalahan pasti ibu hanya menegur lalu menasehatiku. Ia menyayangiku tapi tidak dengan memanjakanku. Ibu mendidikku dengan cara yang begitu halus, tidak kasar, tidak membentak, dan tidak main tangan tetapi dengan sebuah ucapan ibu berhasil mendidikku menjadi anak yang patuh dan tunduk padanya.

Ibuku adalah temanku

Kecantikan hati dan wajahnya memang sejalan dengan sifat dan parasnya yang begitu lembut. Ibu mampu menjadi teman sekaligus ibu untuk aku dan kakakku.

Suasana hati yang mungkin hanya aku dan ibu yang mampu mengerti. “Bagaimana hari ini?, kok cemberut seharian?, anak ibu kenapa nangis?, cie ada yang lagi jatuh hati ni!, jangan sedih terus ya!, semangat adik kecil!” itu adalah kalimat sederhana yang selalu ibu katakan padaku. Ibu adalah penyemangatku, teman cerita yang selalu menemani hari-hariku.  Apapun keluh kesahku hanya ibu yang menjadi tempat ceritaku, rumahku. Tempat ternyaman untuk bersandar ialah di pundak ibu. Menceritakan setiap kebahagiaan, kesedihan dan kegagalan, baik di lingkungan pertemanan, sekolah dan juga percintaan, ibu akan selalu mampu menenangkanku.

Pernah suatu ketika saat dunia percintaanku sedang berantakan, aku yang hampir depresi, menangis, dan selalu mengurung diri. Tapi ibu tidak pernah marah ketika saat itu aku menangisi laki-laki yang sebenarnya tidak perlu untuk ditangisi, justru dalam keadaan itu ibu lah yang berusaha selalu ada, ia berusaha menenangkanku dan memberiku semangat untuk belajar mengikhlaskan. Ibu memang mampu memahami keadaan, ia selalu memberiku celah untuk menikmati kesedihan itu sampai akhirnya aku lelah menangis.  

Photo by August de Richelieu from Pexels 


Tidak hanya menjadi pendengar yang baik, tapi ibu juga teman dalam segala bidang di kehidupanku. Belajar, memasak, bersih-bersih, shopping, dan hal menarik lainnya adalah aktivitas menyenangkan yang selalu kulewati bersama ibu. Begitulah ibu, ia selalu mengusahakan dirinya, menyempatkan waktunya untuk menemaniku.

Ibu adalah perempuan hebat, ia adalah wanita dengan kemapuan yang serba bisa. Ya, wanita yang mampu menyandang status sebagai ibu, sebagai istri, sebagai ibu rumah tangga, dan sekaligus sebagai wanita pekerja. Bagiamana caranya ibu mengatur waktu, membagi kasih sayang antara anak dan suami serta bagaimana ibu bisa mengambil pekerjaan  anatara pekerjaan rumah dan pekerjaan kantor. Membayangkan saja rasanya sudah melelahkan. Tapi ibu....ia  bahkan tidak pernah menunjukkan keluh kesah lelahnya itu, ia selalu berpura-pura kuat dan menunjukkan bahwa dirinya selalu mampu menjalani keadaan. Dan perempuan hebat itu adalah ibuku. 

Katanya kelahiranku telah membuatnya menjadi wanita yang sempurna dan baginya kehadiranku adalah cerita yang paling berharga sepanjang hidupnya. Dan bagiku ibu adalah perempuan yang paling penting dalam hidupku. Perempuan yang paling tulus dalam memberikan kisah kasih sayang. Tanpa kehadirannya duniaku pasti takkan berarti, karena bagiku seramai apapun orang di rumah tanpa kehadiran ibu semua tetap terasa sepi.

Ibu selalu menjadi teman yang baik dan ibu yang baik. Bahkan aku kadang lupa untuk menjadi anak yang baik, membahagiakannya dan memberi waktu luang untuknya. Kita tak akan pernah tahu keadaan apa yang terjadi kedepannya. Dan teruntuk hari ini, sepucuk kalimat yang aku tulis adalah pengungkapan rasa yang tidak sepenuhnya dapat ku rangkai dengan benar. Aku tahu ibu tidak suka akan barang yang berlebihan, hingga sebuah hadiah terindah yang dapat kuberikan adalah “waktu”, waktu untuk menemani di hari ini, nanti dan seterusnya.

Terima kasih tuhan telah menitipkan malaikat dalam hidupku, terima kasih telah memberikan kesehatan, umur yang panjang pada ibuku. Dan teruntuk ibuku, terima kasih telah berjuang dan memberikanku kasih sayang hingga saat ini. Kata yang tidak  dapat mewakili rasa, 22 Desember ialah sebuah peringatan yang begitu berharga untuk kaum perempuan yang telah menjadi sosok ibu. Selamat hari ibu, jadilah selalu sosok wanita yang kuat dan sabar.